Berita Terkini Berita Viral Hari Ini Nasional & Daerah

PB XIII, Naik Takhta di Tengah Konflik Raja Kembar Keraton Surakarta

PB XIII Keraton Surakarta

Pendahuluan

PB XIII Keraton Surakarta menjadi sosok yang menonjol dalam sejarah modern Jawa. Naiknya Pakubuwono XIII ke takhta tidak hanya menandai kelanjutan dinasti Mataram, tetapi juga menjadi awal dari kisah rumit yang melibatkan konflik internal keluarga kerajaan. Dalam situasi penuh ketegangan, dua sosok mengklaim gelar raja, melahirkan istilah Raja Kembar Keraton Surakarta.”


⚔️ Awal Mula Konflik di Keraton Surakarta

Keraton Surakarta Hadiningrat sejak lama menjadi simbol kebudayaan Jawa yang penuh tradisi dan tata krama adiluhung. Namun, setelah wafatnya PB XII, muncul perbedaan pandangan mengenai siapa yang berhak menduduki takhta.

Dua tokoh utama muncul:

  1. Hangabehi, yang kemudian dikenal sebagai PB XIII versi Hangabehi.
  2. Tedjowulan, yang mengklaim sebagai PB XIII versi Tedjowulan.

Konflik ini membuat Keraton Surakarta terbagi dua kubu besar yang sama-sama mengaku sebagai pewaris sah.


🕊️ Naiknya PB XIII di Tengah Konflik

Naiknya PB XIII Hangabehi ke takhta secara resmi didukung oleh sebagian besar abdi dalem dan keluarga inti keraton. Namun, di sisi lain, PB XIII Tedjowulan juga mendapat dukungan dari sejumlah tokoh dan simpatisan di luar tembok keraton.

“Keraton adalah simbol kebesaran Jawa. Bila keraton retak, maka bayangan budayanya ikut pudar,”
kutipan dari seorang budayawan Jawa (sumber: Kompas.com).


🌾 Dampak Konflik terhadap Budaya dan Masyarakat

Konflik ini bukan hanya soal kekuasaan, tetapi juga menyentuh nilai budaya, adat, dan spiritualitas masyarakat Jawa. Banyak masyarakat merasa kehilangan figur pemersatu budaya Surakarta.

Akibatnya:

  • Upacara adat seperti Tingalan Jumenengan dan Grebeg sering digelar terpisah.
  • Pembagian wilayah kerja abdi dalem menjadi tidak jelas.
  • Kepercayaan masyarakat terhadap lembaga keraton menurun.

Namun, di sisi lain, konflik ini juga memunculkan kesadaran baru untuk melestarikan budaya tanpa terjebak pada perebutan tahta.


📜 Upaya Rekonsiliasi Dua Raja

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Dalam Negeri dan Pemprov Jawa Tengah beberapa kali mencoba memediasi kedua pihak. Pada tahun 2012, misalnya, pernah dilakukan pertemuan rekonsiliasi di Keraton dengan tujuan menyatukan kedua PB XIII.

Meski belum menghasilkan kesepakatan penuh, langkah-langkah damai ini menunjukkan adanya niat baik dari kedua belah pihak untuk menjaga marwah budaya Jawa.

“Keraton harus menjadi sumber keteladanan, bukan perpecahan.”
pernyataan dari pejabat Pemprov Jawa Tengah, dikutip dari Detik.com.


🔍 Makna Simbolis PB XIII bagi Generasi Muda

Lebih dari sekadar perebutan takhta, PB XIII Keraton Surakarta mencerminkan perjuangan mempertahankan identitas budaya di era modern. Di tengah globalisasi, nilai-nilai luhur seperti unggah-ungguh, andhap asor, dan tepa selira menjadi semakin penting.

Selain itu, generasi muda diharapkan belajar bahwa:

  • Konflik seharusnya diselesaikan dengan musyawarah dan kebijaksanaan.
  • Budaya adalah warisan, bukan arena perebutan.
  • Melestarikan tradisi berarti menjaga jati diri bangsa.

📚 Baca Juga:

👉 Sejarah Panjang Dinasti Mataram dan Pembentukan Kasunanan Surakarta

Untuk informasi tambahan tentang sejarah Keraton Surakarta, kamu bisa membaca artikel di Wikipedia: Kasunanan Surakarta.


❓ FAQ tentang PB XIII dan Konflik Keraton Surakarta

1. Siapa PB XIII?
PB XIII adalah penerus tahta Keraton Surakarta setelah PB XII wafat. Saat ini, ada dua pihak yang mengklaim gelar tersebut.

2. Mengapa disebut Raja Kembar?
Disebut Raja Kembar karena dua orang, Hangabehi dan Tedjowulan, sama-sama mengklaim sebagai PB XIII.

3. Apakah konflik ini sudah selesai?
Belum sepenuhnya. Upaya rekonsiliasi masih dilakukan oleh pemerintah dan tokoh budaya.

4. Apa dampaknya bagi budaya Jawa?
Konflik ini memengaruhi penyelenggaraan upacara adat dan persepsi publik terhadap Keraton.

5. Bagaimana generasi muda bisa berperan?
Dengan belajar sejarah dan ikut melestarikan budaya Jawa secara positif dan terbuka.


🏁 Kesimpulan

Kisah PB XIII Keraton Surakarta adalah potret nyata perjuangan menjaga warisan budaya di tengah tantangan modernitas dan konflik internal. Meskipun perbedaan masih ada, semangat untuk melestarikan nilai-nilai luhur Jawa tetap menjadi fondasi yang tak tergoyahkan.

Keraton Surakarta bukan hanya tentang siapa yang duduk di singgasana, tapi tentang bagaimana masyarakat menjaga marwah budaya dan harmoni Jawa untuk generasi yang akan datang.